FAKE=PALSU


Dan sampai saat ini ambisi gua untuk berbagi cerita melalui tulisan-pun semakin memuncak. ntah bagaimana laporan praktikum gua yang bakal makin-makin membeludak.
Apa yang ada benak kalian seua mendengar kata "palsu"
I think that is part of a lie, did u agree with this? 
Semuanya gua rasa dapat dirasakan secara nyata di dalamnya. Palsu itu bukan hanya perkara benda atau barang, kondisi bahkan seseorangpun dapat dianggap palsu, iya tidak?
Gua yakin lo disini bahkan pernah sesekali merasakan keadaan dimana orang-orang yang berada di sekeliling lo berkehidupan secara "palsu" bisa jadi terhadap lo dan semuanya. Tidak menutup kemungkinan juga kalo lo sendiri pernah berbuat palsu entah itu kepada siapa saja. 
Jikalau barang ataupun benda itu dianggap menjadi palsu dengan perihal adanya pemalsuan ataupun dipalsukan dengan konteks memang"disengaja"
Ntah dengan alasan hanya ingin mendapatkan suatu keuntungan semata atau hanya menuruti hawa nafsu hal itu bisa dengan mudah di lakukan oleh pelakunya. 
lalu manusia apakah bisa palsu? 
Bagaimana dengan manusia? Apa yang dipalsukan? Siapa yang memalsukan?
yang mengerti jawaban itu semua adalah kembali pada diri individu masing-masing.
Don't trust everything you see? It makes kinda happy. Really?

kata "palsu" menurut gua juga tak melulu persoalan kebohongan tapi menurut gua itu juga dapat berarti adanya sesuatu yang secara pasti ada yang sengaja di sembunyikan sehingga tak mau orang lain mengetahuinya, bisa jadi seseorang tersebut sedang menutup sesuatu terhadap lingkungannya.
pendek cerita hal ini sering kita jumpai dan muncul di kehidupan kita, dan pelakunya bisa jadi orang-orang terdekat sekitar. And I think that is including examples of social problems. Dari sekian banyak problem-problem yang lainnya.

Lalu apa sebenernya yang menjadi indikasi bahwa orang tersebut berbuat “fake” kepada kita?
Hal pertama yang dapat dilihat adalah adanya sikap dan perilaku yang memang sengaja dia lakukan terhadap lingkungan dia berada dengan seolah-olah seperti sangat dibuat-buat. Hal ini ia lakukan dengan tujuan agar dia tetap merasa aman maupun agar lingkungan secara pasti menerima kehadirannya dari segi sosial. Namun untuk segi per-individu gua tidak dapat memastikan secara pasti.
Perlu digaris bawahi hal ini gua utarakan bukan karena gua adalah ahli pengamat perilaku sosial manusia atapun gua sebagai seorang psikolog. It’s not me guys! Gua utarakan ini semata-mata karena gua hanya bisa bepegang kuat pada pengalaman yang telah gua rasakan sendiri. Gua juga bukan seorang observant jiwa dan kesehatan manusia. Plis! mengertilah, gua ini hanya ingin sekedar berbagi cerita mengenai semua pengalaman gua melalui ngaya bahasa yang gua rangkai menjadi sebuah tulisan. Walau sejujurnya ini masih sangat-sangat berantakan.
Dari gua sejujurnya juga pernah menjadi pelaku "fake" dimana saat itu gua sedang terpepet oleh kondisi
tapi bagaimana kalau kita sering menjadi korban kepalsuan orang-orang sekitar? sakit? perih? kesal? sudah jelas.
ego masing-masing orang tak dapat kita tahu. lalu kita harus berbuat apa? menghindar? menjadi antisosial?
gua tidak bisa memberikan saran secara pasti mengenai bagaimana kita bertindak untuk menanggapi suatu  persoalan soal kepalsuan seseorang, 
Namun hendaknya kita lebih berhati-hati dalam segala aspek tindakan yang kita lakukan di kehidupan kita.
Dari dalam diri gua juga seutuhnya benci melihat orang-orang berlaku tidak sesuai dengan diri mereka yang sebenarnya?
Gua heran., gua merasa apa yang sengaja mereka tutupi? Kalau pun mereka seperti itu apa dengan cara memalsukan semuanya akan dapat terselesaikan?
Dari yang gua lihat, Realitanya banyak masyarakat termasuk orang sekitar yang bertindak bukan selayaknya. Memang sulit. “Tapi ya mau bagimana lagi?” ini semua memang sulit hilang dan di hindari. Termasuk juga seutuhnya semua itu ada di dalam diri kita sendiri.
Semoga kita dapat saling meng-introspeksi. Kalian dan gua juga pasti mengerti apapun yang kita lakukan pasti akan di Tanya pertanggung jawabannya.


Comments