Garam Dimana-mana
Jadi hari ini hari minggu dan gua tadi siang menyempatkan untuk keluar pergi ke toserba yang lumayan jauh dari kos gua buat berbelanja kebutuhan kos yang beberapa sudah habis. Walaupun jaraknya lumayan tapi toko ini sangat worth it bagi gua, karena tempatnya enak nggak terlalu gede jadi nggak bikin gua pusing dan capek jalan di dalem toko kemudian barang-barangnya cukup lengkap plus terjangkau apalagi untuk kasaran dompet mahasiswa sepert gua ini.
Karena Bogor telah menerapkan program Zero Plastic mulai tanggal 1 Desember kemarin maka
dari itu sekarang kita wajib punya totebag buat tempat belanjaan yang uda di beli jadi nggak ada lagi tuh tas kresek-kresek di toko-toko alias toko uda nggak menyediakan lagi. Dari kos gua sudah menyiapkan buku catatan kecil berisi apa saja yang perlu gua beli. Berjalan meyusur toko dari mulai masuk gua uda di suguhi banyaknya promo-promo akhir tahun yang bikin mata kalap melihat tulisan diskon dimana-mana. Tapi apalah daya kantong tak mungkin bisa selalu on.
Setelah sampai ke salah satu deretan rak indomie iya indomie mie instan, tiada hari di tanggal tua tanpa kehadiran produk yang favorit ini dari situ gua memutuskan untuk minggir karena disitu lumayan cukup ramai orang. Dan akhirnya di suatu bagian deretan rak gua berhenti cukup lama, gua berhenti di rak yang disitu banyak ibu-ibu lalu lalang. Mana lagi kalau bukan rak bumbu instan iya bumbu instan.
Mulai dari bumbu instan untuk sayur hingga bumu instan untuk sebuah tempe goreng dari merk A-Z disitu ada lengkap dari harga 1000 rupiah hingga yang paling mahal berkisar 10.000 itu juga ada, gua mengamati jalannya orang-orang yang mengambil bumbu instan tersebut dan pengamatan gua menghasilkan kesimpulan bahwa orang-orang tak seberapa peduli perihal merk karena mungkin rasanya ya sama misal sayur asem ya pasti asem mau pakai merk bumbu yang mana pun pasti endingnya sayur asem juga asem, dan lain itu yang terpenting disini setelah gua amati harga iya harga ibu-ibu memang tak bisa lepas dari yang namanya harga murah.
"Yang penting murah"
mau industrinya pake promosi gencar-gencaran rasa yang beda tampilan yang baru kemudian isi lebih banyak itu semua nggak terlalu berguna menurut gua kalo uda berurusan sama ibu-ibu. Prinsip murah bagi mereka semua sudah pasti promosi yang dibuat seketika pasti terkalahkan.
Gua sebagai mahasiswa yang saat ini mengambil bidang pendidikan di jalur pangan akhirnya terketuklah diri gua untuk mengambil salah satu sampel bumbu instan yang dari pengamatan gua best seller tersebut. Sampel yang gua ambil adalah sekitar 3 jenis merk dengan harga yang nggak jauh-jauh beda atau ampir mirip dan ketiganya menurut gua sama-sama laris di tangan ibu-ibu. Dari komposisi ketiga sampel berbeda yang gua ambil terbacalah bahwa yang dituliskan pertama yakni adanya maltodekstrine kemudin ada garam dan satu lagi ada kalium klorida dan selanjutnya jeng...jeng..jeng.
Mononatrium glutamat, iya siapa lagi kalau bukan peguat rasa yang nama pasarannya micin yeay!
Apabila diketahui bahwa didalam suatu produk pangan adanya label komposisi bahan. Apabila unsur yang disebutkan pada komposisi unsur tersebut sebutkan pertama kali atau letaknya paling depan sendiri diatara unsur pembentuk komposisi yang lain maka bahan yang disebutkan pertama kali merupakan unsur terbanyak yang berada di dalam produk tersebut.
Contohnya tadi, pada produk bumbu instan adanya unsur maltodekstrine di sebutkan pertama sebelum garam dan kalium klorida, maka dari itu produk bumbu instan tersebut paling banyak dibentuk oleh maltodekstrine.
Lalu kenapa maltodekstrine? hubungan bumbu instan dengan adanya maltodekstrine tersebut adalah karena maltodekstrine merupakan bubuk berwarna putihdan kadang bisa terbuat adanya tetes tebu yang jelas mengandung gula sehingga rasa yang nantinya dihasilkan dapat terlampau cukup manis selain itu maltodekstrine tersebut dapat digunakan sebagai pengawet pada bahan. Lanjut kemudian pada komposisi selanjutnya ada garam iya garam. Garam yang di pakai pada ketiga produk bumbu instan ni tidak disebutkan apakah garam laut, apakah garam beryodium atau mungkin himalayan sea salt? kayanya kurang mugkin juga kata gua. Dan komposisi ketiga sebagai menyumbang komposisi terbanyak dalam produk bumbu instan adalah Kalium klorida atau biasa disebut dengan nama kimia KCl. dan tak lain juga dia merupakan garam iya garam, garam lagi fungsinya apa? Biasanya ditambahkan kebeberapa produk pangan atau pada makanan untuk berfungsi sebagai penyedap. Unsur ke-empat yak siapalagi kalau micin alias mononatrium glutamat. Gua nggak akan bicara banyak soal ini karena sudah jelas bentuknya penyedap rasa yang juga mengandung garam.
Nah dari ketiga bumbu instan best seller ini, gua nggak tau lagi kenapa si pembuat menjual dengan harga murah namun ya isinya bukan lah bumbu rempah atau mungkin bumbu-bumbuan asli yang telah dikeringkan melaikan hanya berisi serangkaian garam. Seujur-jujurnya gua merasa takut dan worried berlebih karena yang gua lihat konsumen bumbu instan ini adalah ibu-ibu muda ntah itu seorang ibu rumah tangga ataupun wanita karir namun sepandangan gua ibu-ibu ini semua punya anak yang usianya kira-kira dibawah 3 tahun paling enggak ya 3 tahun lah ya yang mereka bawa belanja, lalu belanjaan kebanyakaan ibu-ibu ini juga nggak hanya bumbu instan yang murah aja tapi anak-anaknya terturuti dengan dibelikanya sekaligus makanan ringan atau snack rasa ini itu belum lagi tambahan belanjaan mie instan berbagai macam rasa yang pembeliannya nggak cukup cuman sebungkus, ya kali sebungkus gua aja kadang nggambil 10 bungkus T,T
dan yang pasti anak-anak secara nggak langsung juga ikut megkonsumsi mie instan tersebut
Dapat dilihat dari sini, belanjaan ibu-ibu pasti untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Masakan ibunya saja instan belum lagi makanan ringan atau snacknya belum lagi ketika keluar begini ana-anak pasti punya kesempatan makan bersama keluarga yang ntah itu di restoran yang mungkin saja restoran cepat saji yang punya soft drink dengan gula tinggi dan ketang goreng rasa asin tapi tak cukup bergizi. Lalu gizi apa yang telah tercukupi?
Lantas apakah bahaya? Apa dampaknya? dari beberapa artikel kesehatan yang telah gua baca karena di pelajaran maupun adanya mata kuliah gua juga nggak terlalu menekankan adanya aspek kesehatan yang begini begitu.
Penambahan garam tak dapat dipungkiri membuat rasa makin kuat alhasil kualitas makanan yang siap disantap makin mantap alias enak, sehingga si anak-anak tidak perlu susah makan, dan bisa jadi mereka punya selera akan yang meningkat namun pada konsumen anak-anak, anjuran untuk makan makanan dengan komposisi garam yang terlalu tinggi dapat memperkeras atau menekan adanya kinerja ginjal untuk melakukan filtrasi darah dan penyerapan kembali unsur mineral. Karena ginjal anak-anak masih sangat rentan karena belum terbentuk sempurna dan ginjal juga masih terlalu muda dan harus bekerja super ekstra apabila anak-anak tersebut makan terlalu banyak garam. Dan yang paling penting jika anak sejak dini dibiasakan untuk mengkonsumsi garam cukup tinggi maka anak-anak tersebut memiliki kecenderungan suka terhadap rasa "asin" yang terbawa hingga saat dewasa nanti, kesukaan rasa asin tersebut sangatlah berpotensi sebagai penyebab utama hipertensi, nah ngeri atau enggak? tergantung pandangan masing-masing.
Daya ingat dan intelektualitas anak dari sumber yang gua baca juga sangat berpengaruh apabila anak sering mengkonsumsi garam berlebih. Namun jika ini semua dikonsumsi pada batasan normal that is ok! totally normal, tapi apakah bisa? menurut gua ya tinggal kita aja bagaimana kita mengatur konsumsi kita, bagaimana pola makan kita.
"Lalu kalau begitu kita beli yang lebih mahal aja? siapa tau garamnya lebih sedikit?"
Nah gua juga sempat membaca sekilas dengan harga yang lebih mahal apakah kandungannya sama, tentunya berbeda ada salah satu merk dimana dia sama-sama bumbu instan tapi beda. Perbedaanya yang paling menonjol satu yakni bentuk dan harga, segi bentuk bumbunya berbentuk pasta alias seperti saos gitu alias lagi padatan setengah cair dan harganya ya jelas lebih mahal. Lalu komposisinya? di situ dijelaskan dia menggunakan bawang merah, cabai mengandung garam tapi sepertinya tidak terlalu tinggi seperti garam pada kondisi bumbu serbuk. Tapi harga, perhial harga bisa jadi si bumbu pasta ini memiliki perbandingan harga 3x lipat dari bumbu serbuk dengan netto yang lebih sediki dan yang sangat mebat berbeda dia tidak menyediakan aneka rasa, hanya beberapa rasa saja kirang lebih 3-4 varian tidak sebanyak modelan bumbu instan yang bubuk/serbuk.
Gua tidak bisa merekomendasikan apakah yang ini lebih baik apakah itu lebih bagus. Semua tergantung, tergatung bagaimana kebutuhan kita. Apa keperluannya dan siapa yang mengkonsumsinya itu yang paling penting. Jadi kembali lagi gua merekomendasi untuk apapun yang kita beli mau beli apapun yang akan di konsumsi,
bacalah..bacalah..bacalah
Apapun itu gua merekomendasi sangat semua yang tertera pada kemasan bacalah. Nggak ada salahnya buat kita baca apapun informasi yang ada distu semuanya jangan setengah-setengah.
Gua paham zaman saat ini semuanya serba instan iya semuanya serba cepat, tapi apakah kita lupa kalau semua itu punya efek samping? gua paham kesibukan dunia ini kadang membuat semuanya harus cepat terselesaikan belum lagi adanya himpitan ekonomi untuk menuruti segala yang ada, segala banyaknya keinginan ini itu yang harus dipenuhi sehingga dengan ini semua kita lupa. Mana yang lebih penting, apalagi soal prioritas.
Sisi lain soal hal postif dari adanya bumbu-bumbuan instan ini gua bangga akan banyaknya inovasi produk pangan yang bisa membuat rasa yang sama dengan bumbu asli walaupun itu semua hanya campuran berbentuk serbuk instan saja dengan harga yang murah di banding dengan kita harus ribet jalan sana-sini cari bumbu misalnya repah asli belum lagi nanti harus megupas adalagi yang kulitnya keras dan endingnya semua jika dikalkulasikan jatuh sangat lebih mahal, ribet, langka dan mahal. Mungkin itu alasan mendasar konsumen yang sudah jelas gampang gua tebak.
Tapi yang sangat disayangkan dengan itu semua membuat masyarakat makin terlalu menggampangkan dalam hal racikan masakan dan adanya aspek penting soal kesehatan. Gua juga sadar gua bukanlah orang yang punya pola hidup sehat gua juga sama, iya gua salah satu konsumen produk instan, tapi se-enggaknya untuk para Ibu-ibu nih gua merekomendasi demi jangka panjang kehidupan anak-anak anda nantinya. Karena memang disisi lain selama kita nggak berlebihan itu pasti aman. Tapi apakah sudah yakin?
sekian cerita gua, semoga kita semua lebih aware lagi untuk mau membaca dan mencari tahu, lebih peduli akan adanya efek yang ditimbulkan. Alhamdullilahnya dari perbelanjaan ini gua sekaligus bisa belajar gimana kondisi sosial kita gimana produk pangan yang ada di sekitar kita, by the way nggak ada salahnya untuk kita berdiam sejak untuk lebih cermat soal hal kecil. Karena mungkin itu yang bisa menjadi pengingat kita untuk lebih peduli terhadap kehidupan diri kita, anak-anak kita nantinya dan hal penting yakni kesehatan organ tubuh yang telah diberikan lengkap ini yang menjadi amanah terbesar yang diberikan oleh allah kepada kita.
Sekian terimakasih! love!
ps: laporan pengolahan belum kelar-_-
.jpeg)
.jpg)
Comments
Post a Comment