Mencoba Ngobrol Soal Pola Asuh?

triple choco from where I sit?
Bicara  soal bulan Juli, Halfway to the en of 2019, yay or nay? nggak kerasa padahal baru kemarin tahun baruan di kos and baru kemarin juga tahun baru dapet jagung bakar gratis dari bapak kos. By the way nih ya, sudah setengah tahun berjalan dan sudah seberapa jauh kita semua berlayar?

Sekarang jam 11.00 siang di Macdonald Sidoarjo mendung hangat dan, sendirian. Gua menulis tulisan ini sekaligus merefleksikan diri, pikiran gua dari kemarin uring-uringan. Sambil latian terus berlatih buat skill deutch gua, jadilah gua sambi dengan sedikit-sedikit menulis. 

Pelampiasan gua dari ributnya hati, pikiran serta dunia adalah ke tulisan. Gua menulis karena gua bisa tenang. Kalo urusan buat nulis gua lebih memilih nuntuk menulis di ruang sosial, di tempat umum bisa jadi karena gua lebih suka melihat dan mengamati sekeliling gua serta dari situlah yang membuat gua menemukan banyak inspirasi buat menyelesaikan tulisan gua walau kadang resikonya tulisan gua punya jalur gagasan ide kesana-kemari, but no problemo itu sangat membantu bagi gua dan juga buat tulisan yang gua sedang selesaikan. By the way lagi nih hampir sebulan lebih pulang kerumah gua belum juga menemukan tempat Co-working space yang ramah di kantong beneran. 

Kali ini otak gua entah kenapa kepikiran aja sama satu hal yang menurut kebanyakan orang pasti menyodorkan kalimat dan bilang ke gua 

"Belum waktunya lo bahas ginian bil!"

Gua kepikiran buat mengulas dan ngerfleksiin salah satu topik totally important yang namanya ngasuh anak alias  nama kerennya itu parenting.
Lah kan lo  kuliah aja belum kelar. Ya gimana lagi ya, namanya juga otak gua  isinya randomly banget..banget..banget. sumpah!

Gua membahas topik ini melihat dari sudut pandang keluarga gua, iya nggak ada lagi objek buat bahan gua observasi soal ini kalau nggak gua mengamati langsung lewat keluarga gua.

Ibu dan Bapak gua adalah salah satu the most strong person in the world and they are my pride and my energy. So proud have them both. Gua nggak kepikiran lagi apakah besok-besok ketika kelak gua menjadi orang tua apakah gua bisa seperti bapak dan ibu gua. Kenapa mereka bisa se-sabar itu menghadapi kedua anak-nya yang bandel, mageran dan masih suka se-enaknya sendiri. 

Urusan amanah dari Allah yang satu ini nggak main-main. Anak bukan di urus cuman sembilan bulan sepuluh hari tapi seumur hidup, iya seumur hidup. Orang tua mengurus anak asumsi gua mereka adalah orang yang menjadikan manusia, me-manusia-kan manusia itu. 

Kalau di bilang seseorang kelak akan berhasil atau enggak itu tergantung gimana orang tersebut, mau berusaha mau berjuang mau mencoba atau enggak. Tapi prespektif gua soal itu beda, I think so much for this opinion, itu semua berkunci di orang tua. Iya orang tua kuncinya mereka yang pegang kendali.

Seorang anak mau berjuang mau berusaha mau mencoba harus di bentuk mentalita berjuang itu, harus di bentuk mentalita dan motivasi berusaha itu dari mana lagi kalau bukan dari orang tua mereka. Ya emang si ga menutup kemungkinan juga kalo semua yang ada di bumi ini bisa di jadikan guru.

Bisa di jadikan pembelajaran, tapi kan gambaran kasar atau realitanya yang bisa gua lihat saat ini orang tua lah yang pertama kali mengenalkan lingkungan luar kepada anak-anak mereka. Orang tua yang pertama kali memilih sosial kepada anak-anak mereka entah itu sosial ke keluarga ayah/ibu masing-masing atau ke sekolah buat anak-anak mereka.

Manusia bisa memilih mereka mau jadi apa tapi perjuangan mencapainya itu tergantung bagaimana sisi orang tua yakni dari pola asuh mereka membentuk seseorang manusia yang kelak bisa menggapai pilihan mereka masing-masing. 

Gua paham kalo ada yang bilang jika seseorang itu harus menjadi seseorang yang long-life-learner. Nah kan guru pertama kita adalah orang tua kita, jadi gimana-gimana ya mau nggak mau orang tua juga harus mampu menjadi guru yang multi talented bagi anak-anaknya kelak.

Masalah kesenjangan dan penyimpangan yang ada di di lingkungan nih terlebih di Indonesia tepatnya. Gua melihat bisa jadi salah satu akarnya berasal dari pola asuh orang tua terhadap anak. 

Prespektif lain juga melintas di pikiran gua soal ini. Semisal ada kasus pencurian oleh pelajar di bawah umur, masa habis-habisan menghakimi pelaku. Pihak berwajib nge-vonis hukuman bagi pelaku. Tapi seharusnya jangan menghakimi atau menilai ada pada satu sisi. Apakah alangkah lebih baiknya jika seharusnya toh mereka melihat juha apa akar yang menyebabkan kejadian itu bisa di lakukan oleh pelaku.
Bisa jadi salah satu akar penyebab berasal dari kesalahan orang tua yang kurang perhatian terhadap tingkah  sehingga  membiarkan anak-anaknya. Kembali lagi orang tua jadi kuncinya.

Tapi gua nggak bisa memungkiri, kalo ngasuh anak itu ribet bro..
Gua juga nggak tau apakah gua nanti bisa menjadi orang tua sehebat orang tua tokoh-tokoh besar di luar sana.
Gua di tuntut  harus mau berubah, serta belajar...belajar...belajar keras untuk hal besar yang satu ini.

Lagi-lagi ada salah satu hal yang masi jadi impian besar gua nantinya. Gua pengen kelak anak gua seorang manusia yang Allah amanah-kan ke gua dan suami gua kelak. Menjadi manusia yang nggak hanya mengejar dunia, dia yang lahir ke dunia bersih suci bagaikan kanvas yang masih kosong harus dan tugas gua adalah gua harus bisa melukis kanvas kosong itu dengan kuas yang pas bukan dengan kuas yang salah.

Biar semua kehidupan dia balance. Gimana-pun balik lagi keluarga itu satu tim, satu tim yang harus kuat harus kompak kalau semuanya harus berjalan bersama. Nggak bisa yang berjalan hanya dengan kaki kirinya. 

At the end for my write, sebenernya ada traumatic besar soal keluarga di hidup gua yang belum bisa gua keluarkan lewat tulisan karena gua rasa terlalu berbelit-belit. Sebenernya pikiran gua sesak karena itu tapi jujur kalo perihal ini gua rasa berat kalo harus gua tulis. 

Terimakasih banyak pembaca,
xoxo


Comments