Cyberbullying Isn't Real?


Sekarang tengah malem dan malem ini juga sontak ada kejadian yang berhasil menggugah gua buat nulis. Penyebabnya apalagi kalau bukan trending-nya berita tentang meninggalnya salah satu anggota girl band korea yakni "sulli" f(x). Gua membaca beritanya ngeri beneran doi meninggal dengan cara bunuh diri lebih tepatnya lagi gantung diri. Dan orang-orang di luar sana sudah sangat jelas meratapi kepergian sulli ini dengan kesedihan yang mendalam. Ya industri musik korea saat ini sedang berduka. Kalaupun ditanya gua kpopers atau bukan jawabannya sudah jelas bukan. Gua bukan orang yang tau apalagi update soal dunia per-kpopan atau permusikan di korea. Tapi gua acungi jempol lagu-lagu korea itu banyak yang easy listening banget di beberapa genrenya dan gua suka.

Balik lagi ke topik meninggalnya salah satu anggota girl band korea yakni sulli f(x). Dari research dan membaca beberapa artikel serta berita di social media membuat gua auto shock, heran dan ikut merasakan sedih dari kepergian doi.

Ternyata tulisan manusia sejahat itu sampai bisa membuat seseorang mengakhiri hidupnya. Konteks tulisan yang gua maksud disini adalah komentar-kometar para netizen budiman ini yang gua baca di berita semasa sulli f(x) ini masih hidup. Gila asli tega banget. Ujaran kebencian bullying dan hate comments ternyata penyebab sulli f(x) ini being depressed dan memilih menyelesaikan semua beban hidupnya dengan cara gantung diri. 

Ya kembali lagi ke manusia, pernah waktu itu gua menulis artikel di blog ini tentang konteks berbahasa di social media. Dimana gua amati tulisan dari orang-orang di sosial media saat ini sangat sudah bergeser.
Ntah mengapa social media ini dijadikan sebagai sarana atau media untuk memenuhi hasrat ego semata. Dengan adanya suatu platform jaringan ini masyarakat merasa sangat di berikan akses bebas untuk berbagai hal nggak terkecuali buat ngebully orang-orang disekitarnya.

Sadarnya lagi konteks bullying dan ujaran kebencian ini dapat secara efisien dilakukan hanya melalui usapan jempol dan ketikan kata tanpa pikir panjang melalui komentar atau sekedar cuitan intinya yang penting kita dapat meluapkan seluruh emosi atau ketidak sukaan kita terhadap suatu hal itu dengan mudah karena terfasilitasi dengan adanya social media.

Well, sebenernya gua juga menyadari gua pribadi pun pernah menjadikan social media ini sebagai pelampiasan atas emosi dan media berkeluh kesah. And at the same time gua menyadari kalo ini  hal serem banget karena kebebasan akses ini nggak bisa menutupi kemungkinan kalau orang lain entah siapa disana bisa melihat apa yang kita tulis apa yang kita upload apa yang kita like dan apapun kegiatan yang kita posting di platform bebas akun social media kita. Nah sadar membuat gua tau akan adanya batasan. 

Sulli meninggal karena she tottaly being depressed susah ternyata di jaman sekarang nyari orang yang bener-bener mau berempati. Padahal she speak up doi nunjukkin kondisi dia ke masyarakat tapi entah kenapa kepedulian orang-orang yang doi cari nggak bisa doi didapatkan malah yang ada doi di bully again...again..again.

Inti lain yang mampu gua tangkap yakni doi nggak mendapatkan pertolongan yang doi butuhkan. Dan bisa gua rasa juga bukan hanya kurangnya rasa empati orang-orang tapi masyarakat sekarang mampu dengan mudahnya mengutarakan prejudice mereka soal suatu hal yang nggak tau kebenarannya kaya apa. Ya ini semua balik lagi konteks social media sudah menjadi fasilitas lengkap untuk hal tersebut. 

Lagi-lagi soal depressed, banyak orang-orang beranggapan dikit-dikit cerita lebay, ada masalah dikit-dikit curhat di bilang sok banget cari perhatian. Inilah yang gua anggap suatu worst part. Mindset orang-orang soal mental illness saat ini masih perlu untuk di luruskan. Ketika giliran timbul korban semuanya sedih. hhmmmmm....

Sebenernya kalau toh opini gua pribadi nih ya, orang yang sedang ingin curhat itu. Doi nggak perlu di kasih jalan keluar atau saran yang gimana-gimana tapi lebih gimana kita mau mendengarkan curhatan dianya aja. Dia ceritanya di dengerina aja sebenernya uda melegakan beban dan pikiran dia. Nah tinggal gimana kita-nya aja mau ngerangkul atau lebih empati ke dia.

Cuman kalau dilihat dari sudut pandang lain berbagi cerita, pengen curhat, ada masalah gua rasa nggak hanya perlu cari sosok seseorang yang  mau berempati, nggak hanya membuat postingan atau cuitan tentang keluh kesah dan masalah.

Nah apa kabar dengan berdoa? apakabar dengan kembali mendekat kepada-Nya. Ya mungkin kita sering lupa gua pun juga. Tapi seiring dari tinggalnya gua jauh dengan orang tua curhat dengan berdoa ini salah satu cara ampuh yang benar-benar gua rasakan mampu melegakan rumitnya hati, pikiran dan masalah yang ada. Semua itu pasti punya jalan keluar tinggal gimana kita bisa survive buat nemukan jalan keluar yang sudah di janjikan adanya itu. Don't lose hope,  gua percaya karena allah secara adil sudah memberikan kapasitas masing-masing kepada umatnya. 

Orang-orang mungkin nggak bakal mampu memahami pikiran kita, nggak bakal mampu apalagi mau berempati mendengarkan cerita kita. Tapi doa selalu ampuh menjadi penyembuh bagi masalah kita, karena gua yakin dengan berdoa allah akan selalu bersama kita. Bercerita atau curhat. ingin di dengarkan  memang mampu melegakan beban pikiran tapi yang perlu di ingat jangan sampai salah orang dan tempat ketika kita ingin becerita karena kita nggak tau prsepsi orang ke kita itu kaya gimana.Tapi ketika berdoa kita tidak mungkin saah orang dan tempat, ya thats the main point!

Inti lain dari meninggalnya sulli f(x) ini adalah ternyata dampak dari mental illness ini bener-bener serem. Ngeri kan masalah yang satu ini nggak menemukan titik terang karena dirasa kurang awarenya masyarakat. Nah kalau uda gini lantas mau gimana lagi?

Intinya don't lose hope, dan jangan sungkan kalau mau cerita!
being awareness with yourself


with love 

xoxo

Comments