Belajar Dari Ekspektasi
Oke sebenernya kali ini nggak akan ada yang mau gua bahas. Tapi gue pengen cerita aja, tentang daily routine gua 2 minggu belakangan ini. Jadi nggak ada agenda kemana-mana boro-boro ngadain liburan akhir tahun atau balik buat pulang kerumah. Bisa dipastikan nggak bisa alias impossible, kok bisa? Kenapa?
Nggak ada senggang waktu karena sudah pasti sibuk and padet bulan-bulan ini sampai nanti akhir Februari.
Selain gua harus ujian ujian ujian. Mulai dari ujian praktik, ujian akhir semester, sampai ntar minggu depan gua mulai ujian kompetensi dan ujian komperhensif belum lagi kalau ada perkara remidial dari ujian-ujian tersebut. Gila kan, uda bener-bener mahasiswa tingkat akhir banget nih asli.
Doain gua ya gais semoga gua bisa melewati ujian-ujian ini dengan penuh kesabaran, keikhlasan sehingga jalan untuk mencapai tujuan gua bisa diberi ridho sama Allah hingga bisa di perlancar Aamiin..
Doain gua ya gais semoga gua bisa melewati ujian-ujian ini dengan penuh kesabaran, keikhlasan sehingga jalan untuk mencapai tujuan gua bisa diberi ridho sama Allah hingga bisa di perlancar Aamiin..
Menjalani peran sebagai mahasiswa tingkat akhir di kampus gua sebenernya gampang...gampang susah walau menurut gua banyakan susahnya daripada gampangnya. Semuanya serba bergantung sama gimana orangnya masing, gimana dia bisa menyikapi dan bertindak bijak terhadap segala tuntutan yang diberikan. Pikiran orang jelas beda-beda, dan dari proses tingkat akhir ini semakin kesini juga gua bisa melihat bagaimana sosok asli orang tersebut. Bagaimana real of personality mereka,
"Oh si A gitu ya ternyata"
"Yah padahal di dia baik aja kelihatanya , eh tapi.."
"Kok dia gitu sih kemarin kan dia bilang ini..."
"Kenapa lama banget sih,.."
Kadang dari situ kita merasa banyak dikecewakan, banyak dipatahkan semanggatnya, banyak merasa ditipu, dan banyak juga yang merasa nggak dihargai.
Disini salah satu prespektif gua. Gua melihat bahwa hal yang nggak diharapkan itu semua timbul dari diri kita sendiri yang sebenernya gampang membetuk sebuah ekspektasi terhadap segala aspek dan cepat terbuai ekspektasi tersebut di dalamnya. Nah kalo uda kecewa gitu brarti bisa jadi harapan yang dibuat dari si ekspektasi ini ga tercapai atau nggak didapat. Kasarnya gitu kali ya,
Lantas gimana dong? Kesel, marah, pengen protes yang banyak orang malah memilih untuk memendam karena "nggak enakan" tapi ujung-ujungnya nangis karena nggak bisa nerima kedaan sekarang dan nyatanya gua yakin dari situ otomatis.
Disini salah satu prespektif gua. Gua melihat bahwa hal yang nggak diharapkan itu semua timbul dari diri kita sendiri yang sebenernya gampang membetuk sebuah ekspektasi terhadap segala aspek dan cepat terbuai ekspektasi tersebut di dalamnya. Nah kalo uda kecewa gitu brarti bisa jadi harapan yang dibuat dari si ekspektasi ini ga tercapai atau nggak didapat. Kasarnya gitu kali ya,
Lantas gimana dong? Kesel, marah, pengen protes yang banyak orang malah memilih untuk memendam karena "nggak enakan" tapi ujung-ujungnya nangis karena nggak bisa nerima kedaan sekarang dan nyatanya gua yakin dari situ otomatis.
Perasaan kita jadi gaenak ada yang nge-ganjel, pikiran terganggu dan makin kesini otomatis akan menghambat aktivitas. Kalo uda gitu gimana lagi? Ya yang jelas mau nggak mau ya kita sebagai seorang manusia harus menerima sekaligus mau menghadapi kenyataan tersebut. Well intinya balik lagi sih sabaarrr.
Kenapa juga harus bergantung sama manusia,
Kenapa harus berharap ke-manusia,
Dari situ juga sebenernya ada banyak pengalaman yang menjadi bekal buat pendewsaan kita semua untuk menjadi seorang manusia.
Gua bilang sedemikian karena gua pernah mengalami hal serupa.
Ekspektasi hanyalahh ekspektasi, manusia mudah saja menentukan ideal baginya seperti apa. Tapi kita juga harus mau menerima realitanya kayak gimana. Life must go on bro!
Gua bilang sedemikian karena gua pernah mengalami hal serupa.
Ekspektasi hanyalahh ekspektasi, manusia mudah saja menentukan ideal baginya seperti apa. Tapi kita juga harus mau menerima realitanya kayak gimana. Life must go on bro!
Hidup lo nggak sendirian, ada sang pencipta yang senantiasa denger doa-doa kita senantiasa tau yang terbaik buat kita. Bisa jadi saat ini kita dalam posisi dimasa-masa sulit, dimana kita dikecewain seseorang tapi lebih dari itu semuanya sudah diatur oleh-Nya menjadi cerita terbaik yang menorehkan hikmah atau pelajaran berharga sehingga bisa kita petik untuk bekal di kehidupan nantinya.
Mungkin ga banyak omong juga nih, karena revisian gua membludak bcs sebenernya mager juga sih ngerjain, bosyen rutinitas gua gini lag gini lagi mangkayaya gua nulis sembari meringankan atau ngerefresh otak sebentar.
By the way, kemana lagi tempat menggantungkan harapan terbaik selain kepada-Nya. Don't lose hope!
Semanggat, bisa..bisa!
xoxo


.jpeg)
.jpg)
Comments
Post a Comment