Tiba-tiba panik


Try to find it how to purpose your life? How to your life then? How to yourself then? bersama rentetan How to....? How to....? lainnya.  
Ya sekarang sudah Februari 2020 pada siang kali ini seorang anak perempuan bertahilalat diatas bibir sebelah kiri yang baru menginjakkan kaki di umur 21 tahun ntah kenapa mengalami krisis hidup yang berhasil membuatnya pusing tujuh keliling hingga tak hanya kepusingan, krisis tersebut juga membuat kepalanya serasa dihantam benda super berat. Jika boleh diibaratkan rasanya seperti ikut cheerleader dan kejatuhan flyer dari pyramid 332. 

Gila gua uda tua tapi gua bisa apa? Hidup gua mau dibawa kemana? Kok ga jelas banget si gua? Burem seketika.... 
PANIK PANIK PANIK!! 

So far sebuah kepanikan serta pertanyaan-pertanyaan yang membuat gua realize soal gua sebagai manusia, gua sebagai makhluk Allah, gua sebagai anak, gua sebagai mahasiswa kampus gua, gua sebagai teman buat sahabat-sahabat gua menjalar terus layaknya aliran darah. Dimana hal tersebut selalu ada dan lalu lalang tiap hari dikepala gua. Panik! disisi lain banyak dari beberapa kepanikan gua sebenernya bukan konsumsi publik. Jadi ya nggak akan gua jabarkan disini (Huuu..."). 

"Ribet ya jadi dewasa" Fakta dan realita  hidup yang akhir-akhir ini gua pikirkan dalem-dalem. Detik demi detik berjalan waktu demi waktu terlewati dan umur juga makin bertambah , kita yang hidup selalu terus tumbuh dari situ yang gua lihat semuanya akan sejalan dengan challege yang diberikan oleh kehidupan. Iya challege hidup juga akan semakin naik levelnya. Singkatnya semua itu berjalan agar kehidupan kita balance.  

Oh iya satu hal lagi nih. Yang bikin gua asli tambah pedih soal krisis dan kepanikan hidup yang melanda. Makin kesini makin dikelilingi orang-orang yang suka menjudge masalah yang ada di diri orang lain, ntah kenapa itu yang akhir-akhir ini gua rasakan. Contoh singkatnya ketika beberapa bulan yang lalu gua kehilangan handphone gua. Orang-orang malah dengan gampangnya berkomentar "Yaelah lu ada-ada aja sih bil, hp bisa ilang" Whaaat??...Whaaatt??. Oke guys, finally you succeed making kinda depressed, ya! It sucks heal!. 

Contoh lain juga ketika gua ujian kompetensi kemarin dan gua lupa kalau ujian harus bawa pulpen warna-warni bcs pikirian gua uda chaos banget materi super duper banyak membuat gua harus mati-matian biar bisa lulus dengan waktu yang singkat. Karena gua lupa nggak bawa tuh pulpen warna akhirnya jawaban gua nggak dikoreksi dosen hingga mau nggak mau gua harus remidial langsung. Dengan entengnya orang-orang disekitar gua malah melontarkan beberapa kata-kata secara asal tanpa tau objektifitas sebenernya and that is :
"Mangkanya bil, belajar. Mungkin nilai mikpang lo yang pas semester kemarin kurang bagus. Mangkanya lo kena remidial" Please guys, kalo lo semua nggak tau penyebab aslinya jangan asal se-enaknya ngejudge. Jangan lo asal ngomong, apalagi ngomongnya langsung di depan gua. Itu sakit guys asli!!! Oh, Allah heal me yea:(. Gimana nggak makin pedih, ya kan? 

Hal lain kadang yang membuat gua emotionally drained selain judgementality-nya orang-orang disekitar adalah. Mereka dengan mudahnya menilai sesuatu base on instagram especially for Instagram stories. Banyak temen-temen jauh gua merasa kalau :

"Lo itu enak ya bil, kuliah jauh. Hidup di deket Jakarta"
"Lo itu enak ya bil, feed ig bagus. Soalnya lo jalan-jalan mulu"
"Mainnya ke Jakarta ya bil? Enak dong jalan-jalan terus"

Please guys, gua ke Jakarta asal kalian ngerti nih. Oke emang gua main, tapi main gua nyari acara yang gratisan jujur itu bukan ke mall atau ke tempat-tempat nongki caffe cantik disana. Bukan. Dari lontaran-lotaran decision orang lain terhadap gua. Awalnya gua merasa apakah gua yang terlalu baper. Tapi jujur juga gua baper di titik itu. Dan makin kesini sadar kalo nggak bisa bil. Lo nggak bisa melibatkan perasaan alias baper lo itu secara terus- menerus.

Kok gua ke Jakarta terus? Pertama karena kalau gua mau muter-muterin daerah Bogor jujur nggak bisa karena harus ada kendaraan pribadi kenapa? Karena kalo lo mentok mau muter-muterin Bogor itu ujung-ujungnya ke wilayah puncak yang gampangnya di akses sama kendaraan pribadi. Dan gua nggak punya. Di Jakarta juga kadang gua sambil nyari bahan buat di lab yang susah di temuin di wilayah deket kampus.

Buat yang merasa kalau gua enak sana-sini main. Sana-sini jalan-jalan. Ke Jakarta. Help please, soal ini. Guys lo nggak tau gimana susahnya kuliah disini. Gimana nangis-nangisnya gua nggak kuat. Merasa paling ga capable karena temen-temen lo yang skillnya dewa. Susahnya dapet nilai, yang cuman "B" doang.  Jauh dari orang tua, hujan dingin sendiri. Kadang juga kalo pas banyak-banyaknya pengeluaran tak terduga bikin duit jadi pas-pasan, ngehemat biar lo besok-besok masih bisa makan.

Dan gua nggak mungkin kan nunjukin itu semua kesusahan gua untuk bahan konten ke social media, menjadi konsumsi publik. Se-observasi gua nuralnya manusia itu gamungkin dengan gamblang mengutarakan kesusahannya agar publik bisa tau. Manusia pasti nunjukin dirinya yang baik-baik, yang bagus-bagusnya. Coba balikin ke diri lo? Iya kan gamungkin?

Kenapa bisa gitu, analisa gua kembali lagi ke awal tadi. Gimana makin lo bertumbuh maka challege yang di berikan ke lo akan senantiasa dinaikkan levelnya. Lo emang lagi dilanda ke panikan. Semua orang kata gua juga tapi dengan kondisi kepanikan yang berbeda-beda. Lo nggak bisa menyalahkan keadaan. Manusia emang manusia ya akan tetep gitu. Everything is happend for a reason.

Oke kayanya segitu dulu ceritanya, sambil mencari-cari solusi atas kepanikan lain yang tak henti-hentinya muter-muter dikepala.

Thanxu
xoxo


Comments