Blue Sky Collapse
Alhamdullillah wa syukurillah uda masuk pertenghan bulan juli aja sekarang, dan yang jelas nggak terasa uda masuk pertengahan tahun berujung membuat diri gue cukup
amazed dengan keadaan.
Hi guys? How are you?
Are you stay safe? Still healthy untill now? how? how? how? tell me, I could hear you very well.
Salah satu kegundah-gulana-an gue saat ini adalah dunia semakin gila, pandemi pandemi pandemi membuat gue tiap hari ntah di social media ataupun di lingkungan gue mendengar kabar orang meninggal, se-parah itu kah keadaan? Semoga kalian semua tetap baik-baik saja tetap dalam lindungan-Nya, teteap diberikan kesehatan, tetap di berikaan keberkahan rezeki oleh-Nya.
Alhamdullilah gue tetep sehat walaupun beberapa minggu kemarin sempet gengges kepala pusing dan hidung gue beler, karena kehujanan. Sebenernya kali ini ada banyak pikiran yang nyangut di otak gue selain ke gundahan yang uda gue sebut barusan.
Semakin gue tua kayanya semakin kehilangan tempat privasi, I dunno how mungkin itu yang saat ini gue rasakan.
Gue merasakan perbedaan gue dulu ketika harus hidup sendiri I mean pas gue ngekos tuh dengan kondisi sekarang yang mengharuskan gue untuk tinggal bersama keluarga di tambah iya gue sekarang uda working. Dimana circle orang-orang sekitar gue berubah 180 derajat.
Nggak ada lagi ruang buat gue dan diri gue sendiri untuk refleksi untuk diam berpikir merenung, sedih, nangis. Gue sedikit kehilangan ruang untuk gue dan bisa mendekat,bertanya, dengan tuhan gue.
Makin kesini apa yang gue rasakan adalah gue dipaksa untuk jadi seorang pribadi yang beda yang makin yaudah itu bukan seorang gue. Perubahan itu gue anggap apa lagi kalau bukan demi memenuhi apa yang orang-orang anggap idealnya mereka, padahal gue rasa itu sulit buat gue.
"Gue nggak bisa bilang bahwa gue sedang nggak baik-baik saja, tapi gue juga nggak bisa bilang kalo gue lagi nggak apa-apa".
Kadang gue sangat merasa capek, dan kehabisan energi. Gue nggak dikasih waktu untuk berpikir, makin di buru-buru in.Tapi balik lagi yang bisa dealling dengan keadaan yauda gue dan diri gue sendiri lagi. Banyak orang diluar sana menganggap gue seorang yang dibentuk menjadi manusia strongly, nggak gampang sedih, selalu positive.
Eh padahal ya belum tau aja gue gimana. Ujaran-ujaran orang-orang makin nggak menambah positivy pada gue, berujung malah menjadikan gue memendam emosi. Dari emosi yang nggak bisa gue ungkapin berujung gue nangis tapi kalo sekrang mau nangis ngga bisa, karena nanti orang rumah bakal nanya
"Lah lapo kon iku kak?"
Terus kalo gue nggak bilang gue nggak mau cerita katanya gue nggak terbuka sama keluarga sendiri, huhuhuhu............
Sorry to say kalo tulisan ini berujung jadi ndengerin keluhan gue. Tapi jujur gue nggak tau, nggak tau harus mau bilang kesiapa nggak tau harus berbuat apa, nggak tau harus ngapain? at the sama time disisi lain gue kaya nerasa bersalah nggak memberikan bacaan yang berfaedah alias bermanfaat bagi pembacanya.
Komunikasi itu penting tapi kayanya selama ini gue salah membentuk komunikasi tersebut, iya gue merasa salah pake bgt bgt bgt. Kayanya gue seorang payah, gue nggak bisa membangun relations yang baik I mean karena disisi lain gue lost contact with my another best best friends crush, yang diem-diem suka gue galauin woelah bil sedih bgt. Iya lah sedih dianya ga pernah ada kabar-_- *ok, lanjut pembahasan
Apa mungkin karena gue yang semakin tua membuat hidup itu makin sulit? Dari situ gue berusaha untuk bersyukur bersyukur bersyukur mungkin lo lagi sulit dengan keadaan yang nggak bisa lo handling dengan diri lo sendiri. Mungkin lo penat dan merasa capek dengan keadaan, mungkin komunikasi lo kurang bisa diterima orang-orang, mungkin lo sedang kehilangan jejak si dia.
Ya sometimes it's hurtable:(
Tapi disisi lain seharusnya gue bersyukur banyak masih bisa bareng orang-orang yang mau berdampingan hidup dengan gue berkumpul dengan orang-orang baik, lantas masih bisa bersama tanpa kehilangan satu pun orang yang mau menerima kehadiran gue, berteman baik dengan gue, menerima gue walaupun gue adalah seorang yang sangat payah.
Oh iya Accepting tutor mahasiswa bahasa korea dengan mahasiswa dari dongseo university membuat gue bahagia karena gue nambah temen baru dari korea yang sekaligus mengasah skill bahasa gue, dikit-dikit maksa dia conversation koreaan waalaupun confused berujung ngomong bahasa inggris juga. Pulang kerja ngelihat awan di pengujung senja berasa dunia dan kekuasan Allah itu besar banget, ibarat kalimat dari mba laila lewat blognya let the bestin! bahwasannya
"Kalau gue lagi sulit tidur malam karena overthinking berbagai masalah, gue suka banget nonton video ini—atau video alam lainnya—sambil mengingatkan diri bahwa di tengah alam semesta yang maha agung ini, manusia itu kecil. Problem-problem manusia juga kecil, dan pasti akan terurai. Kalaupun rasanya nggak terurai-urai, cepat atau lambat, it will not matter anymore."
Terus akhir-akhir ini blue sky collapse dari Adhitia Sofyan jadi lagu yang sering gue puter, ntah kenapa liriknya membuat gue jadi flashback dengan orang-orang dimasa lalu yang nggak gue temukan sekarang.
As I stare at the walls in this room
The cracks they resemble your shadow
When everyday I see time goes by
In my head everything stood still
The cracks they resemble your shadow
When everyday I see time goes by
In my head everything stood still
Allah tau kok bil lo itu bisa, bersyukur dari hal- hal kecil, semoga kita tetap dalam lindungan dan menegakkan tuntunanya. I mean prinsip allah pasti tau yang terbaik bagi setiap umatnya. Semoga walaupun kita jauh tanpa kabar semoga tetap saling mendoakan. Aamiin....

.jpeg)
.jpg)
Comments
Post a Comment