Contradictory Emotions - Kita Hanyalah Seorang Umat
![]() |
| Love in a thousand miles, Barakallah fii kum.... |
life lessons again, in the past of 25th- and a hundred times, and a million scene of life nasehat itu muncul kembali kalau sejatinya yakinlah tugas kita adalah untuk bertakwa kepada-Nya.
Menjadi super kecil diantara para undangan yang masuk, diantara 15 orang, diurutan ke tujuh, duduk di bagian bangku paling tengah. Gila track record mereka semua rata-rata nulis di Medium, yang jelas nggak kaleng-kaleng. Belum lagi pas perkenalan punya kerjaan dan pendidikan yang hebat. S2 Psikologi, Sastra Arab, Guru bahasa Jerman, konsultan urban living. Betapa payah-nya gue dihadapan diri gue sendiri, boro-boro sarjana boss. Ini aja kuliah nggak kelar-kelar.
Berbincang soal hari-hari yang terasanya semakin amat panjang sejak gue memutuskan untuk mengeluarkan surat pengunduran diri dari kerjaan terkahir. Bukan berarti uda nggak bingung soal hidup kemudian berasa jadi si paling jadi peaceful living? Oh tentu saja tidak yang Mulia sekalian.
Going the extra miles, Starting Over- Rebuilding kind of way.
Ibarat kata gue nggak lagi lari tapi waktu akan terus-terusan ngejar. Masih suka uring-uringan sama kepala sendiri, kepikiran banyak, pusing, belum lagi tiba-tiba nangis. pernah waktu itu hari Minggu sore lagi nyapu tiba-tiba keinget bapak gue nangis kejer asli. That's what happend to me? This age is so hard guys, lebay *tapi kadang, iya kan bener?*
Part menangis lain adalah menangis dijalan pulang. Nggak bisa di-itung rasanya uda berapa kali gue di kendaraan umum sembab. Gue yang uring-uringan soal proses starting-over it ini, setelah gue pendam sendiri. Akhirnya emosi itu keluar pas gue di jemput bapak gue. Mengadu ketakutan yang gue rasakan dengan pertanyaan asbun/ asal bunyi alias random
Salsabila : "Pak kalau tahun ini kakak belum ketemu jodohnya gimana? Kuliah belum selesai, kerjaan nggak jelas"
Bapakek : "Ya rapopo, kakak tetep dadi anake bapak. Mau bagimana pun takdir Allah nggak bisa dipaksa, yang terpenting tetap jaga diri."
rasanya hidup gue runtuh seketika, nangis gemeter
and, Life doesn't really care about who started early or late.
Banyak nasihat yang menyadarkan, bahwa sejatinya hidup cuman gimana kita menjadi umat yang bertakwa di jalan-Nya. Too deep tapi gue throwback sebentar, waktu gue diundang buat datang ke les nulis juga ditekankan kalau apasih yang di cari? Manusia itu emang sifatnya lemah. Mangkanya itu Allah selalu ada untuk membersamai.
Gimana kalau selama ini kebahagiaan yang kita kejar cuman bikin kita hampa?. Sudah capek mati-matian di kejar, sudah tercapai sesuai target tapi habis itu apa? uda selesai kosong aja gitu? Sejatinya capeknya tuh nggak bikin kita sampai, nggak pernah bikin kita tenang. Arahnya nggak jelas. Kita nggak bisa hebat sendirian. Dan yang paling GONG! nasehat yang hadir bilang kalau semuanya akan hilang.
Kehilangan bisa di ibaratkan "sesuatu yang menyakitkan tapi nggak bisa kita persiapkan"
In my view gue meng-iya-kan pada prinsip "udahlah capek, jangan berpaut pada makhluk" tapi soal brainstroming kemarin kehilangan bukan soal itu aja. Lebih dalam lebih luas, mereka bilang kalau Kehilangan nggak hanya soal orang, tapi bisa jadi kehilangan mimpi, kehilangan barang, kehilangan momentum.
Project ini bener-bener dahsyat kalo buat gue. Perihal nulis dan baca yang selama ini gue gunakan sebagai media buat mengungkapkan perasaan, walaupun juga sebelumnya gue masuk ke kelas fiksi di kelas menggarang Surabaya, tapi ini nggak bisa. Pengalaman-pengalaman yang gue bawa nggak bisa jadi patokan. Semuanya soal project ini lebih dari itu, les nulis dan buku kumpulan puisi dari kak natasha rizky bikin gue muter, hidup gue rasanya di tuntut untuk berproses dan kembali melibatkan sesuatu apapun itu dengan-Nya. Slow-burn becoming yourself again. Exploring again, happy, failures, lonely confused at the same time. Ya-Allah, untuk semua rasa khawatir yang ada, dan segala ketidakpastian ini. Jika memang yang saat ini dijalani adalah ketetapanmu. Hamba mohon untuk ke-ridha-anmu di dalam doa-doa yang hamba dan orang tua hamba panjatkan, Bismillah biidznillah...
| source : instagram.com/qurandansenja |

.jpeg)
.jpg)
Comments
Post a Comment