And, Suddenly it's December



The air feels different in a way that’s hard to name — quieter, gentler, like the world is wrapped in a thin layer of memory. I keep catching myself pausing mid-step, mid-thought, realizing how quickly this year slipped through my fingers. This age is so hard, 

hidup lagi ga punya energi sejujurnya, 왜 이러깨?   not under bright lights — but in life. Every room, every conversation, every moment where eyes might be on me. I’ve memorized which smiles. I feel people that so best, gue sampe deactive instagram first account. Rasanya nggak kuat ngelihatnya. Rasanya gue paling payah, masih terus di hantui umur segini lo belum bisa jadi apa-apa. Merasa apa-apa yang gue kerjakan nggak ada yang beres, rasanya nggak ada yang bisa di andelin dari diri gue. Nggak ada yang tau gimana keputusasaanya gue, rasanya cuman menyisakan kegelisahaan dan lagi-lagi yang terus muter di kepala adalah Career pressure, daily responsibilities, big dreams, marriage talks, and aging parents, all at once. Just trying to survive and find meaning. Not even at all, am not fine and is lost. 

Baca dari tumblr mas Guniardi Kurniawan "Jadi jika ini adalah fase hidup yang sedang kau jalani, baik-buruknya, maka lakukanlah semuanya dengan ikhlas dan hati yang lapang dalam berperan baik Sepanjang terus berusaha untuk melangkah dengan teliti dan baik, yakin aja bahwa di depan akan baik-baik saja. Tentu saja, baik menurutNya, bukan menurut kita." 


Time will be pass, inshaAllah...semoga baik-baik saja 

                                                                              

Comments